Adalah anak pertama dari pasangan cinta M. Irwan Afandi dan Davi Wahyuni.
Hami, begitu kami biasa memanggilnya. Lahir di Surabaya, 9 Mei 2007 dengan berat 3,2kg dan panjang 49 cm. Menjadi anak yang kuat dan bijak (Hamizan), lemah lembut terhadap orang tua (Rifqi) serta menjadi orang yang bergelar (Afandi) itulah harapan dari nama yang kami berikan untuknya.
Anak adalah buah hati setiap orang tua, dambaan disetiap orang tua serta penyejuk hati bagi keletihan jiwa orang tua. Anak tidak lahir begitu saja, anak terlahir dari buah cinta sepasang hamba Allah subhanahu wa ta’ala yang merupakan amanat wajib untuk dijaga, diasuh dan dirawat dengan baik oleh orangtua. Karena setiap amanat akan dimintai pertanggungjawaban sebagaimana hadist sahih yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Ibnu Umar yang berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya dan seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarga dan akan dimintai tanggungjawab atas kepemimpinannya, dan wanita adalah penanggung jawab terhadap rumah suaminya dan akan dimintai tanggungjawabnya serta pembantu adalah penanggungjawab atas harta benda majikannya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (Muttafaqun ’alaihi)
Seorang ibu dengan bayi dalam dekapannya
Datang bertanya,
Bicaralah pada kami tentang anak
Jawabnya :
Anakmu bukan milikmu
Mereka putra putri kehidupan
Yang rindu pada dirinya
Lewat kau mereka lahir,
namun bukan dari engkau
Meski mereka bersamamu,
mereka bukan hakmu
Berikan kasih sayangmu,
namun jangan paksakan Kehendakmu
Sebab mereka punya alam pikiran sendiri
Berikan tempat bagi raganya,
Tetapi tidakuntuk jiwanya
Sebab jiwa mereka penghuni masa depan,
Yang tiada dapat kau kunjungi,
Juga tidak dalam mimpi.
Kau boleh berusaha menyerupai mereka
Namun tidak membuat mereka menyerupaimu
Sebab kehidupan tidak berjalan mundur
Juga tidak tenggelam di masa silam
Kaulah busur,
Yang melepaskan anak panah kehidupan
Sang pemanah membidik sasaran
Dalam ketidakterbatasan
Dia merentangmu dalam keperkasaan-Nya
Agar panah melesat cepat dan jauh
Meliuklah dengan suka cita
Di tangan Sang Pemanah
Sebab dia mengasihi anak panah yang melesat cepat,
Sebagaimana ia mencintai busur yang kuat
(The prophet, Gibran’s master piece, 1976)